Who Am I?
Who Am I? merupakan
sebuah kalimat tanya yang terdiri dari tiga unsur kata namun untuk menjawabnya
tidak cukup hanya dalam jelmaan kata yang menjuntai membentuk kalimat.
Diperlukan pemahaman dan kesadaran pada diri sendiri untuk mengenalkan “ Ini
saya”, sehingga dengan mengenal diri sendiri maka visi dan misi didalam menjalani
hidup lebih terarah tidak seperti hidup bak mayat berjalan.
Inilah
saya, Dinda Wahyu Anisa seorang anak perempuan yang terlahir dari orang tua
yang hebat dengan sebuah mimpi untuk membantu mahkluk hidup yang berada
disekitar . Seorang perempuan yang sangat menyukai album LEXICON Isyana
Sarasvati karena memberi kamus hidup ”aku” yang
dibalur melodi, instrumentasi dengan lirik bergenre klasik dan opera yang
sangat menggambarkan kepribadian saya
sebagai seseorang kreatif, nyaman dengan diri sendiri dan juga dunia
sekitar , meskipun terkadang pecinta musik klasik digambarkan sebagai seorang
introvert namun tidak sepenuhnya terjadi kepada saya pasalnya saya mengakui
diri saya sebagai seorang yang ambivert artinya saya mampu menempatkan posisi
saya disetiap keadaan. Hal itu
dibuktikan dengan sebagian teman mengatakan saya orang yang cuek sehingga saya
lebih enak untuk dijadikan tempat curhat dan meminta saran dalam hal memutuskan
sesuatu, namun banyak juga orang disekitar saya mengatakan saya anak yang
banyak tingkah dan kocak.
Dunia
perekonomian dan pendidikan menjadi hal yang sangat menarik bagi saya untuk dipelajari dan dikembangkan, pasalnya
hidup tidak jauh dari dua hal tersebut. Alasan pertama melalui perekonomian yang
mengatur prinsip kebutuhan pokok sosial atau masyarakat, kedua hidup tidak
pernah berhenti memberikan sebuah pelajaran. Tanpa dua hal tersebut manusia
akan kesulitan untuk beradaptasi dan terseleksi sendirinya dengan alam. Saya
memulai mengembangkan bakat dan minat sejak saya berada di bangku SMA dengan
mengikuti kegiatan koperasi siswa dan organisasi jurnalistik.
Didalam
kehidupan tidak jauh dari kata sukses dan gagal, namun kerap kali orang orang
mendefiniskan kegagalan lebih banyak dibanding dengan kesuksesan padahal pepatah mengatakan tidak ada kesuksesan yang tak diawali
dengan kegagalan terlebih dahulu dan tak semua kegagalan adalah sebuah akhir. Sama
halnya dengan saya yang tidak menyangka akan memasuki Universitas Negeri Malang
yang merupakan pilihan kedua, karena saya lebih mengharapkan pilihan pertama
sehingga saya merasa putus asa , padahal kenyataanya keadaan memberikan saya
kesempatan untuk memilih dan memutuskan. Serta disetiap keputusan terdapat
tanggung jawab dan sebuah kenyataan yang harus dijalani.


